Alkisah
tentang jokotole, Pada suatu ketika waktu Jokotole bergelar Pangeran
Setyodiningrat III memegang pemerintahan di Sumenep kurang lebih 1415 th,
datanglah musuh dari negeri Cina yang dipimpin oleh Sampo Tua Lang dengan berkendaraan
kapal yang dapat berjalan di atas Gunung di antara bumi dan langit.
Didalam peperangan itu Pangeran Setyoadiningrat III mengendarai kuda terbang
sesuai petunjuk dari pamannya (Adirasa), pada suatu saat ketika mendengar suara
dari pamannya yang berkata "pukul" maka Jokotole menahan kekang
kudanya dengan keras sehingga kepala dari kuda itu menoleh kebelakang dan ia
sendiri sambil memukulkan cambuknya yang mengenai Dempo Awang beserta perahunya
sehingga hancur luluh ketanah tepat di atas Bancaran (artinya, bâncarlaan),
Bangkalan. Sementara Piring Dampo Awang jatuh di Ujung Piring yang sekarang
menjadi nama desa di Kecamatan Kota Bangkalan. Sedangkan jangkarnya jatuh di
Desa/Kecamatan Socah
Dengan kejadian inilah maka kuda terbang yang menoleh kebelakang dijadikan
lambang bagi daerah Sumenep, sebenarnya sejak Jokotole bertugas di Majapahit
sudah memperkenalkan lambang kuda terbang.
.jpg)
.jpg)

